Beranda Internasional Sepak Terjang John McBeth Yang Tulisannya Viral di ASIATIMES

Sepak Terjang John McBeth Yang Tulisannya Viral di ASIATIMES

0
BERBAGI

Wartawan senior John MacBeth membuat sebuah tuduhan serius kepada Presiden Jokowi. Dalam sebuah artikel di media online Asia Times, MacBeth menyebut Jokowi tengah memainkan strategi “Smoke and Mirrors” dalam pemerintahannya.

Wartawan kelahiran Selandia Baru (1944)  itu malah menyebut Jokowi sudah menjadi seorang empu (master) dalam permainan “asap dan cermin”. Smoke and mirrors, sebuah idiom yang berasal dari  aksi panggung para  pemain sulap menggunakan semburan asap dan cermin untuk menyembunyikan sesuatu dan  menciptakan efek ilusi tertentu.

loading...

Dalam kamus Webster definisinya “something intended to disguise or draw attention away from an often embarrassing or unpleasant issue —usually hyphenated when used attributively.”  Sesuatu yang dimaksudkan untuk menyamarkan atau menarik perhatian dari masalah yang sering memalukan atau tidak mengenakkan.

Sementara dalam kamus Cambridge definisinya adalah “Something that is described as smoke and mirrors is intended to make you believe that something is being done or is true, when it is no.” Sesuatu yang  dimaksudkan untuk membuat Anda percaya bahwa ada sesuatu yang sedang dilakukan atau benar telah dilakukan.

Dalam bahasa lebih sederhana, smoke and mirrors bisa diartikan melebih-lebihkan. Dalam konteks politik hal itu dimaksudkan agar para lawan politiknya tidak perlu melawan.

Isi tulisan McBeth sendiri sebenarnya biasa saja dan tidak ada yang cukup baru. Dia menulis tentang empat hal. Soal penyelamatan sumber daya alam, yakni negosiasi dengan PT Freeport dan pembangunan Blok Masela, pembangunan infrastruktur, serta swasembada pangan daging dan beras.

Soal Freeport MacBeth menyebut pemerintahan Jokowi melebih-lebihkan keberhasilan dalam divestasi saham sebesar 51%. Namun bagaimana cara pemerintah membayarnya dan bagaimana penguasaan manajemennya tidak jelas. Justru yang terjadi pemerintah kembali mengizinkan Freeport mengekspor konsentrat tembaga. Sebelumnya pemerintah mensyaratkan akan memperpanjang izin Freeport bila bersedia membangun smelter di Papua.

Soal infrastruktur MacBeth menyoroti pembangunan kereta api cepat Jakarta-Bandung yang akan dibiayai oleh Cina sebesar USD 5.8 miliar, dan pembangkit listrik di Batang, Jawa Tengah senilai USD 4 miliar. Kedua proyek tersebut terkendala pembangunanannya berkaitan dengan pembebasan lahan. Proyek-proyek tersebut diharapkan dapat selesai pada tahun 2018, atau setahun sebelum pilpres.

Soal swasembada pangan seperti janjinya saat kampanye, Jokowi menyatakan akan menghentikan berbagai impor komoditas pangan termasuk daging dan beras.

John-McBethPada tahun 2015, tulis MacBeth, pemerintah dengan bangga mengumumkan bahwa proporsi impor daging sapi terhadap total konsumsi turun dari 31% menjadi 24%, tanpa ada yang mencatat bahwa orang Indonesia hanya makan 2,7 kilogram per tahun. Tingkat per kapita konsumsi daging terendah di Asia Tenggara.

Setahun kemudian, angka tersebut telah meningkat kembali menjadi 32% dan tahun lalu meningkat lagi menjadi 41% dengan harga daging sapi sebesar US $ 10/kg.

Begitu pula dengan impor beras. Bulan lalu pemerintah mengumumkan akan mengimpor beras sebanyak 500.000 ton. Rencana impor beras ini menjadi sebuah ironi karena pada bulan Januari 2017

Menteri Pertanian Amran Sulaiman mengklaim Indonesia berhasil melakukan swasembada pangan atas empat komoditas, yakni; beras, jagung, cabai, dan bawang.

Kalau benar pemerintahan Jokowi berhasil melakukan swasembada pangan, hal itu merupakan capaian yang luar biasa. Swasembada pangan berhasil dicapai saat Indonesia dipimpin Soeharto pada tahun 1980an. Setelah itu para presiden penggantinya, tidak ada yang berhasil melakukannya.

Tidak terlalu mengejutkan mengapa tulisan MacBeth menjadi heboh dan viral? Tampaknya karena idiom yang digunakan, dan sepak terjangnya sebagai wartawan seakan dapat menggambarkan peta politik Indonesia saat ini.

Pertama, seperti telah disebut  penggunaan idiom smoke and mirrors dan hide hard truths. Sebuah kosa kata yang tidak main-main karena mengandung tuduhan bahwa Presiden Jokowi mencoba menyembunyikan sebuah kebenaran.

Di akhir tulisannya Macbeth meramalkan, cepat atau lambat kebenaran itu akan terungkap dan masyarakat akan menyadari. “Sooner or later, the smoke and the mirrors will inevitably lift to reveal hard realities”.

Kedua, penilaian MacBeth bahwa Jokowi telah menjadi seorang empu permainan “asap dan cermin,” dan media yang secara tidak langsung memfasilitasinya dengan cara tidak pernah mempertanyakan, data-data “keberhasilan” yang disampaikan pemerintah. Presiden Jokowi dan istana juga disebut menjadi “spin doctor,” sebuah kosa kata yang secara negasi sering dipahami sebagai upaya memutarbalikkan fakta.

Ketiga, ini yang tampaknya paling penting dan serius,  adalah reputasi MacBeth. Lahir di Selandia Baru, John MacBeth menjadi wartawan selama 52 tahun, dan  44 tahun dari karir jurnalistiknya dihabiskan di Asia.

Mengawali karirnya sebagai sub-editor di Bangkok Post,  dia kemudian menjadi reporter lepas London Daily, Telegraph, dan United Press Internasional.

Dia bergabung dengan majalah Far Eastern Economic Review pada tahun 1979 dan selama 25 tahun menjabat sebagai kepala biro majalah di Bangkok, Seoul, Manila dan Jakarta.

Ketika Review ditutup pada tahun 2004, dia menjadi  kolumnis kontrak untuk Straits Times, kebanyakan menulis tentang  Indonesia. Dia menikah dengan Yuli Ismartono seorang mantan wartawan senior Tempo dan pernah menjadi pejabat bidang kehumasan di Freeport.

MacBeth  juga menulis sebuah buku berjudul The Loner : President Yudhoyono’s Decade of Trial and Indecision.  Sebuah buku yang menulis dengan sangat lengkap masa kepemimpinan SBY selama dua periode sebagai presiden RI ke-6 dan  presiden pertama yang terpilih secara demokratis.

Dengan reputasi semacam itu tulisan MacBeth mengisyaratkan ada sesuatu yang tengah terjadi. Dia mempunyai banyak sumber berita di kalangan “orang dalam”  maupun komunitas internasional. MacBeth seakan banyak tahu sesuatu hal yang tidak banyak diketahui kalangan umum, termasuk wartawan dan media dalam negeri.

Apakah serangan, pandangan atau pendapat John McBeth tersebut sifatnya objektif, independen, sesuai dengan kenyataan?

Kita, rakyat Indonesialah yang lebih berhak menyimpulkan dan tetap mengawasi, adakah intervensi asing dalam masterplan negara Indonesia ini. Pun begitu dengan MacBeth sendiri, apakah ada kepentingan lain dari kemunculan kritik ‘smoke & mirror’ miliknya.

 

Sumber : yesmuslim.blogspot.id

LEAVE A REPLY